
Gambar pohon beringin yang ditembus pohon lain
Pohon Beringin besar yang biasanya tumbuh di areal tempat suci ataupun kuburan sangat dikeramatkan oleh masyarakat karena dipercaya ada yang “menghuninya”. Begitupula pohon Beringin yang terdapat di dekat Pura Kawan Desa Tiga Kawan Kecamatan Susut, Bangli. Anehnya pohon Beringin tersebut batangnya ditembus oleh tumbuhan lain yakni pohon Base-base yang besarnya hampir sama. Karena posisi Beringin yang dijepit oleh pohon Base-base, masyarakat setempat menamai pohon Beringin kajepit (terjepit).
Tokoh masyarakat Desa Tiga Kawan Jro Bahu Lembing, mengungkapkan proses terjepitnya pohon Beringin oleh pohon Base-base tersebut sudah terjadi sejak lama tepatnya sekitar tahun 1929. Awalnya pohon Beringin yang saat ini terjepit itu merupakan bangsing (akar) dari pohon Beringin besar yang tumbuh berdekatan dengan Pura Kawan (sekitar 50 meter dari lokasi beringin kajepit).
Meski tampak aneh, namun masyarakat setempat awalnya kurang mengetahui gejala apa sebenarnya yang terjadi akibat tumbuhnya Beringin kajepit itu sampai adanya beberapa kejadian yang menimpa warga yang justru bukan krama setempat. Pernah suatu ketika ada seorang pedagang yang sedang datang bulan (haid) menggelar dagangannya tepat di bawah pohon Beringin itu. Tidak berapa lama, tanpa disadari oleh si pedagang darah haidnya keluar begitu deras sampai membasahi kedua pahanya seperti orang yang sedang mengalami pendarahan.
Jro Bayan Kayun selaku pemangku setempat membenarkan cerita tersebut, bahkan menurutnya sejak kejadian itu merupakan pantangan bagi warga Desa Adat Tiga Kawan khususnya yang sedang datang bulan untuk berada ataupun melintas pada pohon Beringin Kajepit. Meski warga sudah mengetahui pantangan tersebut, namun banyak warga dari luar desa yang tidak mengetahuinya. Akibatnya, kejadian serupa pernah terjadi dan menimpa salah satu pemain arja yang kebetulan berkesempatan pentas di Desa Tiga Kawan.
Usai pentas pemain arja tersebut hendak beristirahat dan memilih untuk duduk dibawah pohon beringin kajepit yang memang tampak sangat teduh jika berada dibawahnya. Pemain arja yang saat itu sedang datang bulan tidak tau jika merupakan suatu pantangan untukmelintas apalagi duduk dibawah Beringin Kajepit, akhirnya apa yang menimpa pedagang yang dulu pernah berdagang terulang kembali.. “Darahnya keluar sangat banyak seperti orang yang keguguran,” ungkap Jro Bayan Kayun.
Tidak hanya itu, selain wanita yang sedang datang bulan, wanita hamil juga pantang berada didekat pohon Beringin kajepit atau melintas didekatnya terutama pada dahan yang melengkung berbentuk gapura. Jika ada wanita hamil yang melintasi Beringin kajepit terutama pada dahan pohon yang berbentuk gapura tak dapat dihindari lagi, maka bayi kandungan yang ada pada wanita itu akan mengalami keguguran.
Mengingat banyaknya kejadian yang sering dialami justru oleh warga luar desa yang kurang mengetahui keberadaan Beringin kajepit dan pantangannya itu, warga Desa Tiga Kawan memutuskan untuk memagari areal Beringin Kajepit dan mengalihkan jalan setapak yang tadinya berada melintasi dahan beringin yang berbentuk gapura. “Kini setelah jalannya dibelokkan dan pohon Beringinnya dipagari, kejadian seperti itu (keguguran dan pendarahan) tidak pernah terjadi lagi,” jelas Jro Bayan Kayun.
Meski dapat mengakibatkan keguguran, anehnya jika ada warga yang hamil dan berniat agar proses persalinannya berjalan lancar tanpa harus operasi memohon dengan berdoa di dekat pohon Beringin kajepit tersebut maka proses persalinannyapun akan berjalan seperti yang diharapkan. Hal ini sudah banyak dibuktikan oleh warga setempat, bahkan warga dari luar desa yang percaya juga kerap datang untuk melakukan permohonan.
Jro Bayan Kayun mengungkapkan, munculnya keanehan pada pohon Beringin kajepit ini
tidak terlepas dari pohon Beringin induk yang kini sudah roboh. Beringin besar yang merupakan induk dari Beringin kajepit itu roboh sekitar lima tahun lalu bertepatan dengan dipugarnya Pura Melanting. Sebelum tumbang Beringin yang menjadi induk dari Beringin kajepit ini tumbuh menjulang tinggi, konon karena tingginya pohon Beringin ini terlihat dari Penelokan, Kintamani yang jaraknya sekitar 20 kilometer dari lokasi.
Selain tinggi, Beringin ini juga memiliki batang yang sangat besar dengan bangsing yang lebat. Diantara batang dan bangsing yang berjatuhan menyentuh tanah terdapat lubang yang menganga menyerupai gua, dimana besarnya gua yang terbentuk diperkirakan mampu menampung sekitar 80-90 orang. Terbukti sewaktu hujan pada saat piodalan di Pura Penataran dan Bale Agung yang jaraknya hanya 15 meter dari lokasi, warga yang saat itu usai sembahyang yang jumlahnya tidak kurang dari seratus orang berteduh didalam gua tanpa merasa berdesakan.
Meski sering terjadi hal-hal yang gaib dan sulit dijangkau akal sehat, anehnya sampai saat ini tidak satupun ada masyarakat setempat yang pernah melihat atau mendengar sesuatu dari Beringin kajepit itu walau pada hari-hari yang dikeramatkan seperti Kajeng Kliwon. “Saya tidak tau siapa apa wujud ataupun sosok yang menunggu Beringin tersebut, namun yang pasti jika ada orang yang berniat kurang baik, biasanya mereka akan melihat atau mengalami kejadian yang membuatnya ketakutan setengah mati,” ungkap Jro Bayan Kayun seraya menambahkan dilokasi Beringin besar yang kini telah tumbang tersebut kerap munculnya tumbuhan byah ganjah yang dipercaya dapat dipergunakan sebagai obat yang mampu mengatasi segala macam penyakit.













4 komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini
15 September 2009 pada 4:14 am
irwan
Semua peristiwa ditakdirkan Tuhan agar kita selalu ingat kepadaNya.
15 September 2009 pada 6:08 am
melahluung
Betul sekali…
16 September 2009 pada 8:57 pm
Agus Suhanto
hai, senang bertemu Anda melalui blog ini saya Agus Suhanto, tulisan yang bagus
salam kenal yaa
17 September 2009 pada 5:18 am
melahluung
salam kenal juga, thank’s apresiasinya…